Postingan berjudul Aturan Sukses Berbeda Pada Setiap Orang ini menjadi perhatianku saat pertama kali berkunjung pada blog mbak Evi, sang penulis blog dengan berbagai jurnal yang "berisi dan menggigit".
Aku dan Kamu
Sukses bagi tiap orang berbeda. Motivator menggalinya dari khasanah berbagai literatur dunia. Seperti
sistem spritualitas barat dan timur yang menekankan konsep sukses secara
batiniah. Sementara guru-guru spritual berangkat dari pemahaman agama
yang mereka anut. Sukses dikaitkan antara keseimbangan hidup di dunia maupun akhirat. Entrepreneurs mengaitkan sukses dengan prestasi perusahaan mereka.
Jadi aturan sukses berbeda pada setiap orang. Arti sukses tergantung
pada tingkat pemahaman, nilai-nilai apa yang dianut serta mendominasi
pikiran.
bagindaery |
Sependapat dengan uraian tersebut, aku melihatnyapun tak jauh berbeda. Dalam lingkaran kecil keluarga, istri dan suami seringkali memiliki pandangan yang berbeda akan arti sukses. Apalagi jika dijabarkan dalam status peranannya sebagai suami atau pencari nafkah. Tak jarang kutemui cerita, akar perceraian terjadi akibat sang istri memiliki pendapatan yang lebih dibanding suami (aahh, sukses materi malah menjadi jurang pemisah), atau karena suami yang memiliki WIL justru saat ia telah meraih puncak karir (sukses karir menghancurkan keluarga). Namun tak jarang juga kutemui cerita, seorang istri yang setia dan bahagia meski frekuensi bertemu sang suami yang melaut bisa 3bln atau lebih. Atau seorang dokter yang dalam kesibukan tingginya namun mampu menciptakan saat berkualitas berkumpul keluarga. Yang sangat lebih memprihatinkan (menurutku), saat arti kesuksesan akhirnya mengorbankan anak. Tidak jarang orangtua yang memaksakan suatu kegiatan atau profesi kepada anaknya hanya karena mereka menganggap profesi tersebut sudah pasti sukses.
Satukan Pemahaman untuk Mereka
Tapi yang menarik untuk saya adalah mengapa kita memiliki aturan-aturan berbeda untuk konsep yang sama?
Lantas mengapa terjadi lubang-lubang dalam jiwa kita? Apakah
lubang-lubang tersebut terjadi karena kita memiliki nilai-nilai tertentu?
Atau kah lubang-lubang tersebut yang membentuk nilai-nilai kita?
ervakurniawan |
Penting yaa ternyata, menyatukan visi sukses dalam sebuah keluarga berdasarkan pemahaman yang sama. Meskipun Aku (istri) dan Kamu (suami) mungkin memang sebelumnya berbeda dalam memahami arti kesuksesan.
Lubang-lubang jiwa seperti yang ditulis mbak Evi itu haruslah Aku dan Kamu yang menutupnya, kemudian membentuknya dengan indah. Agar Mereka (anak) dapat dengan mudah mengerti dan berkembang, menuju arti sukses (baca: bahagia) mereka, selayaknya bunga pada saatnya bermekaran.
Bergerak, Berubah, Bahagia
Tidak ada yang akan terjadi tanpa sebuah aksi. Mari duduk bersama, sediakan waktu untuk berbincang hal ringan yang berdampak besar ini. Mulailah dengan bertanya pada pasangan, "Menurutmu apakah kita sudah sukses?", "Seperti apa arti sukses bagimu?", "Apa yang masih menjadi kekurangan kita dalam pengertian suksesmu?"... lalu bicarakan, diskusikan, samakan pemahaman.
crazydylus |
Perubahanpun tidak akan terjadi begitu cepat, namun usaha-ikhtiar adalah yang terpenting. Pada akhirnya anggota keluarga yang saling memahami arti kesuksesan akan melihat wujud kebahagiaan pada keluarganya sebagai kebahagiaannya dan kesuksesannya.
Lalu menebarkannya bagai virus positif ke seluruh penjuru hidup.
muhammadyogapratama |
Hanya sebuah sisi lain dari mengurai kesuksesan untuk pohon impian keluarga.
4 comments:
Dalam hidup yang berpasangan, hendaknya sukses itu diusahakan jalurnya sama ya Mbak. Kalau tidak agak repot membawa rumah tangga, jika satu ke utara dan lainnya ke selatan.
Terima kasih sudah ikut berpartispasi Mbak. Tercatat ya..
Perlu adanya sebuah dialog antara Aku dan Kamu tentang definisi sukses ya mbak. Biar dibelakang gak ada yang nelangsa..
Hmm.. kalau gitu saya nanti cari deh seseorang yang disebut Kamu yang enak diajak omong soal sukses
terima kasih udah menyemarakkan GA mbak Evi ya. Sudah tercatat sebagai peserta..
Salam kenal Mbak
Sukses menurutku adalah ketika suami istri itu sukses mengantar anak anaknya menjadi anak yg soleh. Mak blog cantiknya aq follow, follow balik.ya.. tengkiu..
@Evi: betul mbak, jangan waktu ijab kabul aja sejalannya yaa :). Terimakasih mba Evi menyempatkan mampir.
@Lozz: smoga segera mendapatkan curahan hati yang pas yaa mas... Lam kenal juga ^^
@Yanti: betul mbak, impian pasutri yaa. Aku sudah follow ya mbakku :*
Post a Comment